Pages

Sunday, September 21, 2014

Can you hear me, Papa?

10 pm - August 26th, 2011

Seperti baru kemarin, semua lewat di depan saya. Saat saya mendampingi papa di ambulance, saat seorang ayah yang membesarkan sampai saya bisa seperti ini, disaat-saat perih hidup saya, merasakan tatapan kosong ke dalam kubur papa.
Saat itu, masih dengan seragam kantor, sang dokter dengan berat hati dan suara lirih bilang, "saya turut berduka cita". Ahhh entah siapa waktu itu yang bisa saya tetap tegar menerima kenyataan itu. Tapi dari semua perpisahan kita, membawa perubahan banyak ke diri saya. Ya, disaat kepergiannya pun masih saja papa memberi arti hidup. Papa, seorang jiwa yang saya kenal, selalu terbayang apa yang papa rasakan disana. Apakah doa saya bisa menolong papa? Apakah semua rasa rindu yang saya ceritakan padaMu, bisakah papa tau?

Rindu, rindu, rindu. Jadi begini rasanya ga punya papa.
Ini pertama kalinya saya sadar kalau kematian itu sungguh dekat, sangat dekat. Mungkin hanya raganya yang pergi, yang terkubur dibawah sana, tapi jiwanya terus ada melanjutkan perjalanan. Papa telah pergi, melangkah pergi... Selamat jalan, papa.



Jika seolah-olah hanya ada satu hari untuk bersamanya, hari terakhir bersama nya..