Pages

Sunday, May 25, 2014

ASI atau Sufor?

Seperti yang dikutip dari earthmamaangelbaby.com"Pregnancy is a wonderful time to prepare for breastfeeding"


Ada yang bilang hamil butuh perjuangan, melahirkan pun penuh perjuangan, lalu masalahnya adalah para ibu baru (atau cuma saya aja sih) yang fokus ke hamil dan melahirkan, melupakan kalau menyusui itu pun butuh beribu-ribu perjuangan diatas semuanya. Gini loh saya cuma fokus kudu kasi ASIX 6 bulan, stock berpuluh puluh botol ASIP, kudu beli kulkas yang khusus buat asi dan kembali bekerja dengan tenang meninggalkan bayi dengan stock asi yang melimpah. Saya udah yakin banget kalo ASI akan keluar pada setiap ibu.

Tapi kenyataannya adalah, puting saya retak, lecet, berdarah-darah, bayi saya badannya mulai anget, rewel, alhasil saya semakin stress, makin ga nafsu makan, asi makin ga keluar, arrghhh... rasanya dunia mau runtuh, apa gunanya semua teori dan apa gunanya saya sebagai ibu untuk anak saya? Baby blues pun datang melengkapi awal hari-hari saya bersama bayi.

Hari pertama saya ga langsung IMD, detik-detik habis melahirkan udah ga kuat lagi pegang bayi. Saya baru bisa belajar menyusui 8 jam setelah melahirkan. Di hari kedua ASI belum banyak dan semoga saja colostrum ikut diminum bayi saya, disini mulai tanda-tanda perih. Di hari ketiga saya pulang dari RS semuanya terasa baik-baik aja, tapiiii rasanya semakin "Waw" sakit dan bayi seperti tidak puas menyusui. Lagi lagi saya pakai teori, "oke, asi saya akan banyak seiring saya sering menyusui".

Dan sampai hari ke 4 saya masih keukeuh ga mau pakai sufor. Titik. Tapi yang terjadi bayi semakin panas temperaturnya, dan rewel. Akhirnya sama mama di beri air putih, badannya berangsur angsur normal. Saya lega? Belum. Beberapa jam lagi badannya panas dan puting saya semakin memburuk. Berdarah-darah dan horor sekalii.. bayi saya seperti vampire dengan darah di mulutnya. Sakitnya pun udah ga bisa saya tahan, sang bayi juga 2 jam menyusu ga ada tanda-tanda kenyang. Sedangkan setiap detik terasa teriris-iris. Mental langsung nge drop. Speechless.
Air mata bercucuran, baby blues menyerang saya dan suami. Dan sufor pun datang di kehidupan kami. God...


Mulailah saya sharing sama ibu ibu seperjuangan, dan saran mereka untuk puting berdarah:

Cara pertama: Di olesi asi sebelum dan setelah menyusu. Dan masalahnya, ASI ga ada apa yang mau dioles? Hiks..

Carakedua: Diolesi minyak kelapa. Nah ini menurut saya berguna banget. Ternyata asi saya tersumbat dan puting kering. Akhirnya dibersihkan dengan minyak kelapa bertahap dan sering. Dan bener..kulitnya ngelupas aja gitu.. Masalahnya saya ga pernah tau harus dibersihkan kaya apa sampai asi benar-benar bisa keluar, selama ini saya hanya kasi baby oil aja. Dan pakai minyak kelapa pun mengurangi perih. Seminggu saya bolos asi, jealous tapinyaaa ngeliat Baby Alo bonding time sama dot. Akhirnya perlahan-lahan semakin sembuh dan menyusui terasa menyenangkan, meskipun tetap dibantu sufor..

Next challenge: bagaimana membuat asi saya deras.

Minum Moloco, sudah.
Minum Lactamam, sudah.
Minum habbatus sauda, sudah.
Minum jamu, sudah.
Pijat Asi, sudah. Hasilnya muncrat2 asinya tapi di pumping keluarnya masih belum seperti yang diharapkan..
Makan katuk, setiap hari.
Minum jus pare, udah dan rasanya.. *tepok tepok jidat*





Usaha yang terakhir, mendatangi klinik laktasi. Konsul tentang kendala menyusui dan masalah yang terakhir menyusui saya itu setiap habis menyusui, payudara terasa sakit nyeri beberapa jam. Katanya sih cuma masalah latch on  (pelekatan) yang salah.


Pasti udah banyak yang bahas masalah ini. Jadi latch on yang benar adalah mulut bayi terbuka lebar, areola (lingkaran hitam yang mengelilingi puting) masuk dengan sempurna ke mulut bayi. Banyak ibu yang terluka salah satunya karena masalah latch on ini, sang bayi kesal karena asi yang keluar sedikit dan ibu pun menderita jika bayi menghisap hanya di puting saja. Karena katanya areola ini merangsang produksi asi.

Dan usahakan puting tidak terkena bedak ataupun sabun yang dapat membuat kering.

Jadiii... Saya mengakui sekarang kalau menyusui tidak semudah teori, tidak lebih mudah dari hamil ataupun melahirkan. Tapi bukan berarti ibu yang tidak bisa menyusui anaknya tidak mau usaha. Kalau ditanya ke setiap ibu saya yakin mereka memilih menyusui anaknya, minimal ASIX 6 bulan, karena menyusui memang butuh effort besar, tapi balasannya jauh lebih besar, coba bayangin kita menyusui sambil menatap matanya yang tanpa dosa, genggaman tangannya yang mungil, belum lagi jika sang bayi kenyang menyusui senyumnya menjadi senyum terindah seorang ibu. Hihihi.. Seandainya Allah tidak menjanjikan menyusui balasannya adalah surga pun, saya yakin semua ibu akan tetap memilih menyusui.


Sampai saat ini saya masih tetap menyusui, meskipun masih terus dibantu sufor. Pada dasarnya semua ibu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tapiii kasih ibu tidak hanya sebatas asi.. Dulu pun saya berpendapat kalau menyusui itu bisa diusahakan, tapi sekarang saya bilang ASI itu anugrah. Beruntunglah yang tidak merasakan yang saya alami (dan ibu-ibu lain diluar sana).

Semoga artikel ini bisa membantu, dan bagi calon ibu, get prepared for breastfeeding!